4 herbal yang mampu mengobati edema paru

4 herbal yang mampu mengobati edema paru

PENGERTIAN

Edema paru didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi perpindahan cairan dari vaskular paru ke interstisial dan alveoli paru.

Pada edema paru terdapat penimbunan cairan serosa atau serosanguinosa secara berlebihan di dalam ruang interstisial dan alveoli paru.

Edema yang terjadi akut dan luas sering disusul oleh kematian dalam waktu singkat.

Edema paru dapat diklasifikasikan:

  • Edema paru kardiogenik
  • Edema paru non-kardiogenik.

Edema paru kardiogenik disebabkan oleh peningkatan tekanan hidrostatik kapiler paru yang dapat terjadi akibat perfusi berlebihan baik dari infus darah maupun produk darah dan cairan lainnya.

Edema paru non-kardiogenik disebabkan oleh peningkatan permeabilitas kapiler paru antara lain pada pasca transplantasi paru dan reekspansi edema paru, termasuk cedera iskemia, reperfusi, dimediasi.

Walaupun penyebab edema paru kardiogenik dan non-kardiogenik berbeda, namun keduanya memiliki penampilan klinis yang serupa sehingga menyulitkan dalam menegakkan diagnosisnya.

Edema paru kardiogenik akut (Acute cardiogenic pulmonary edema/ACPE) sering terjadi, dan berdampak merugikan dan mematikan dengan tingkat kematian 10-20%.

PATOFISIOLOGI

Dalam keadaan normal di dalam paru terjadi aliran yang kontinyu dari cairan dan protein intravaskular ke jaringan interstisial dan kembali ke sistem aliran darah melalui saluran limfe. Edema paru terjadi bila cairan yang difiltrasi oleh dinding mikrovaskuler lebih banyak dari pada yang bisa dikeluarkan yang berakibat alveoli penuh terisi cairan sehingga tidak memungkinkan terjadinya pertukaran gas.

Faktor-faktor penentu yang berperan di sini yaitu perbedaan tekanan hidrostatik dan onkotik dalam lumen kapiler dan interstisial, serta permeabilitas sel endotel terhadap air, larutan, dan molekul besar seperti protein plasma.

Adanya ketidakseimbangan dari satu atau lebih dari faktor-faktor di atas akan menimbulkan terjadinya edema paru. Pada edema paru kardiogenik (volume overload edema) terjadinya peningkatan tekanan hidrostatik dalam kapiler paru menyebabkan peningkatan filtrasi cairan transvaskular.

Bila tekanan interstisial paru lebih besar daripada tekanan intrapleural maka cairan bergerak menuju pleura viseral yang menyebabkan efusi pleura. Bila permeabilitas kapiler endotel tetap normal, maka cairan edema yang meninggalkan sirkulasi
memiliki kandungan protein rendah.

Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler paru biasanya disebabkan oleh meningkatnya tekanan di vena pulmonalis yang terjadi akibat meningkatnya tekanan akhir diastolik ventrikel kiri dan tekanan atrium kiri (>25 mmHg).

Dalam keadaan normal tekanan kapiler paru berkisar 8-12 mmHg dan tekanan osmotik koloid plasma 28 mmHg. Kejadian tersebut akan menimbulkan lingkaran setan yang terus memburuk oleh proses-proses sebagai berikut:

  1. Meningkatnya kongesti paru menyebabkan desaturasi dan menurunnya pasokan oksigen miokard memperburuk fungsi jantung.
  2. Hipoksemia dan meningkatnya cairan di paru menimbulkan vasokonstriksi pulmonal sehingga meningkatkan tekanan ventrikel kanan yang melalui mekanisme interdependensi ventrikel akan semakin menurunkan fungsi ventrikel kiri.
  3. Insufisiensi sirkulasi menyebabkan asidosis sehingga memperburuk fungsi jantung.

Keluarnya cairan edema dari alveoli paru tergantung pada transpor aktif ion Na+ dan Cl- melintasi barier epitel yang terdapat pada membran apikal sel epitel alveolar tipe I dan II serta epitel saluran napas distal. Ion Na+ secara aktif ditranspor keluar ke ruang insterstisial oleh kerja Na/K-ATPase yang terletak pada membran basolateral sel tipe II. Air secara pasif mengikuti, kemungkinan melalui aquaporins yang merupakan saluran air pada sel tipe I.

Edema paru kardiogenik dapat terjadi akibat dekompensasi akut pada gagal jantung kronik maupun akibat gagal jantung akut pada infark miokard di mana terjadinya bendungan dan peningkatan tekanan di jantung dan paru akibat melemahnya pompa jantung. Kenaikan tekanan hidrostatik kapiler paru menyebabkan transudasi cairan ke dalam ruang interstisial paru, dimana tekanan hidrostatik kapiler paru lebih tinggi dari tekanan osmotik koloid plasma.

Pada tingkat kritis, ketika ruang interstitial dan perivaskular sudah terisi, maka peningkatan tekanan hidrostatik menyebabkan penetrasi cairan ke dalam ruang alveoli. Terdapat tiga tingkatan fisiologi dari akumulasi cairan pada edema paru kardiogenik:

Tingkat 1: Cairan dan koloid berpindah dari kapiler paru ke interstisial paru tetapi terdapat peningkatan cairan yang keluar dari aliran limfatik.
Tingkat 2: Kemampuan pompa sistem limfatik telah terlampaui sehingga cairan dan koloid mulai terakumulasi pada ruang interstisial sekitar bronkioli, arteriol, dan venula.
Tingkat 3: Peningkatan akumulasi cairan menyebabkan terjadinya edema alveoli. Pada tahap ini mulai terjadi gangguan pertukaran gas.

 

ETIOLOGI

Edema paru biasanya diakibatkan oleh peningkatan tekanan pembuluh kapiler paru dan permeabilitas kapiler alveolar. Edema paru akibat peningkatan permeabilitas kapiler paru sering disebut acute respiratory distress syndrome (ARDS).
Pada keadaan normal terdapat keseimbangan tekanan onkotik (osmotik) dan hidrostatik antara kapiler paru dan alveoli. Tekanan hidrostatik yang meningkat pada gagal jantung menyebabkan edema paru, sedangkan pada gagal ginjal terjadi retensi cairan yang menyebabkan volume overload dan diikuti edema paru.

Hipoalbuminemia pada sindrom nefrotik atau malnutrisi menyebabkan tekanan onkotik menurun sehingga terjadi edema paru. Pada tahap awal edema paru terdapat peningkatan kandungan cairan di jaringan interstisial antara kapiler dan alveoli. Pada edema paru akibat peningkatan permeabilitas kapiler paru perlu dipikirkan bahwa kaskade inflamasi timbul beberapa jam kemudian yang berasal dari suatu fokus kerusakan jaringan tubuh.

Neutrofil yang teraktivasi akan beragregasi dan melekat pada sel endotel yang kemudian menyebabkan pelepasan berbagai toksin, radikal bebas, dan mediator inflamasi seperti asam arakidonat, kinin, dan histamin. Proses kompleks ini dapat diinisiasi oleh berbagai macam keadaan atau penyakit dengan hasil akhir kerusakan endotel yang berakibat peningkatan permeabilitas kapiler alveolar.

Alveoli menjadi terisi penuh dengan eksudat yang kaya protein dan banyak mengandung neutrofil dan sel-sel inflamasi sehingga terbentuk membran hialin. Karakteristik edema paru akibat peningkatan permeabilitas kapiler paru ialah tidak adanya peningkatan tekanan pulmonal (hipertensi pulmonal).

Penyebab edema paru kardiogenik ialah:

  1. Gagal jantung kiri, yang dapat diakibatkan oleh: infark miokard, penyakit katup aorta dan mitral, kardiomiopati, aritmia, hipertensi krisis, kelainan jantung bawaan (paten ductus arteriosus, ventrikel septal defek)
  2. Volume overload
  3. Obstruksi mekanik aliran kiri
  4. Insufisiensi limfatik, yang terjadi sebagai akibat lanjut transplantasi paru, karsinomatosis limfangi-ektasis, atau limfangitis fibrosis.

DIAGNOSIS

Manifestasi klinis edema paru baik kardiogenik maupun non-kardiogenik bisa serupa; oleh sebab itu sangat penting untuk menetapkan gejala yang dominan dari kedua jenis tersebut sebagai pedoman pengobatan.

GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis edema paru yaitu dari Anamnesis ditemukan adanya sesak napas yang bersifat tiba-tiba yang dihubungkan dengan riwayat nyeri dada dan riwayat sakit jantung.

Perkembangan edema paru bisa berangsur-angsur atau tiba-tiba seperti pada kasus edema paru akut. Selain itu, sputum dalam jumlah banyak, berbusa dan berwarna merah jambu. Gejala-gejala umum lain yang mungkin ditemukan ialah: mudah lelah, lebih cepat merasa sesak napas dengan aktivitas yang biasa (dyspnea on exertion), napas cepat (takipnea), pusing, atau kelemahan.

Tingkat oksigenasi darah yang rendah (hipoksia) mungkin terdeteksi pada pasien dengan edema paru. Pada auskultasi dapat didengar suara-suara paru yang abnormal, seperti ronki atau crakles. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis, yaitu:

  1. Pemeriksaan foto toraks menunjukkan kardiomegali (pada pasien dengan CHF) dan adanya edema alveolar disertai efusi pleura dan infiltrasi bilateral dengan pola butterfly, gambaran vaskular paru dan hilus yang berkabut serta adanya garis-garis Kerley b di interlobularis.
    Gambaran lain yang berhubungan dengan penyakit jantung berupa pembesaran ventrikel kiri sering dijumpai. Efusi pleura unilateral juga sering dijumpai dan berhubungan dengan gagal jantung kiri.
  2. EKG menunjukan gangguan pada jantung seperti pembesaran atrium kiri, pembesaran ventrikel kiri, aritmia, miokard iskemik maupun infark.
  3. Ekokardiografi dilakukan untuk mengetahui apakah ada penurunan fungsi dari ventrikel kiri dan adanya kelainan katup-katup jantung.
  4. Pemeriksaan laboratorium enzim jantung perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis infark miokard.
  5. Analisis gas darah (AGDA) dapat memperlihatkan penurunan PO2 dan
    PCO2 pada keadaan awal tetapi pada perkembangan penyakit selanjutnya PO2 semakin menurun sedangkan PCO2 meningkat. Pada kasus yang berat biasanya dijumpai hiperkapnia dan asidosis respiratorik.
  6. Kateterisasi jantung kanan: Pengukuran P pw (pulmonary capillary wedge pressure) melalui kateterisasi jantung kanan merupakan baku emas untuk pasien edema paru kardiogenik yaitu berkisar 25-35 mmHg sedangkan pada pasien ARDS P pw 0-18 mmHg.
  7. Kadar protein cairan edema: Pengukuran rasio konsentrasi protein cairan edema dibandingkan protein plasma dapat digunakan untuk membedakan edema paru kardiogenik dan non-kardiogenik.

PENATALAKSANAAN

Edema paru kardiogenik merupakan salah satu kegawatan medis yang perlu penanganan secepat mungkin setelah ditegakkan diagnosis. Penatalaksanaan utama meliputi pengobatan suportif yang ditujukan terutama untuk mempertahankan fungsi paru (seperti pertukaran gas, perfusi organ), sedangkan penyebab utama juga harus diselidiki dan diobati sesegera mungkin bila memungkinkan.

Prinsip penatalaksanaan meliputi:

  • pemberian oksigen yang adekuat
  • restriksi cairan, dan mempertahankan fungsi kardiovaskular.

Pertimbangan awal ialah dengan evaluasi klinis, EKG, foto toraks,dan AGDA. Suplementasi oksigen Hipoksemia umum pada edema paru merupakan ancaman utama bagi susunan saraf pusat, baik berupa turunnya kesadaran sampai koma maupun terjadinya syok.

Oleh karena itu suplementasi oksigen merupakan terapi intervensi yang penting untuk meningkatkan pertukaran gas dan menurunkan kerja pernapasan, mengoptimalisasi unit fungsional paru sebanyak mungkin, serta mengurangi overdistensi alveolar.

Penanganan Dengan Herbal

  • Agarillus Drop
    Membantu menguatkan daya tahan tubuh dan menguatkan sistem metabolisme dalam paru dengan menguatkan sel-sel organ paru. Dengan kuatkan sistem organ paru maka pertukaran udara dalam alveoli dapat berjalan dengan baik dan gangguan yang terjadi dalam paru akan menjadi lebih minimal.
  • Celte
    Membantu meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga penyebab terjadinya edema pada paru dapat teratasi dengan baik.
  • Prokanda
    Membantu meningkatkan kinerja paru, membantu melawan kuman, atau virus yang menjadi penyebab dari edema paru tersebut.
  • Jamu Batuk dan Asma
    Dapat digunakan pada kondisi lendir yang berlebih pada paru. Membantu mengeluarkan lendir yang menggangu pernafasan dan kenyamanan dalam pernafasan.

Pasien dengan edema paru di anjurkan untuk banyak menghirup udara pagi pada waktu subuh, dan berjemur sinar matahari pagi antara jam 7 sampai jam 9 pagi, agar tubuh mendapat energi dan vitamin D yang cukup dari sinar matahari. Kelembaban ruangan juga dapat mempengaruhi kesembuhan, sehingga dianjurkan agar menjaga lingkungan rumah yang sehat dan segar.

Ditulis oleh:
dr. Ipak Ridmah Rikenawaty, M.Si
Konsultan Kesehatan CV. Mutiara Berlian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *