8 Gejala Difteri, Jangan Anggap Enteng!!!

8 Gejala Difteri, Jangan Anggap Enteng!!!

Berbagi Kebaikan Itu Ibadah

Pengertian

Difteria atau difteri adalah penyakit infeksi bakteri yang biasanya mempengaruhi membran lendir pada hidung dan tenggorokan. Gejala Difteri seperti tenggorokan serak, demam, pembengkakan pada kelenjar dan melemahnya tubuh. Tanda yang terlihat jelas adalah lembaran kental, berwarna abu-abu yang menutupi bagian belakang tenggorokan dan dapat menutupi saluran udara, serta menyebabkan kesulitan bernapas.

Pengobatan tersedia untuk difteri. Namun, infeksi difteri yang sudah memasuki tahap serius dapat merusak jantung, ginjal dan sistem saraf. Walaupun pengobatan tersedia, difteri bisa sangat berbahaya dan menyebabkan kematian. 3% orang yang terkena difteri berujung pada kematian. Biasanya risiko terkena difteri semakin tinggi untuk anak di bawah 15 tahun.

Gejala

Difteri adalah penyakit infeksi bakteri yang dapat menular. Penyakit ini biasanya menyebar melalui udara ketika penderita batuk atau bersin, atau melalui kontak secara langsung dengan penderita tersebut. Penyebaran bakteri juga dapat terjadi akibat berbagi penggunaan peralatan dengan orang yang terinfeksi, seperti gelas, baju atau tempat tidur.

Gejala atau tanda dari difteri berikut ini biasanya muncul 2-5 hari setelah terinfeksi:

  • Lapisan kental berwarna abu-abu di pangkal tenggorokan.
  • Demam dengan suhu 38°C.
  • Badan terasa tidak enak.
  • Tenggorokan serak atau suara serak.
  • Sakit kepala.
  • Pembengkakan kelenjar pada leher.
  • Kesulitan bernapas dan pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Sengau.

Jika memengaruhi kulit, penderita akan mengalami:

  • Bintik yang berisi nanah pada kaki, telapak kaki, dan tangan.
  • Bisul besar yang berwarna merah dan kulit terasa sakit.

gejala difteria agarillus herbal murah solo

Penyebab

Penyebab difteri adalah infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae dan menular melalui:

  • Partikel udara:
    Ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, partikel bakteri akan tersebar ke udara. Orang yang kemudian menghirup udara tersebut dapat terkena infeksi bakteri. Bakteri akan menyebar dengan sangat cepat, terutama dalam tempat yang ramai.
  • Barang pribadi yang terinfeksi:
    Seseorang dapat tertular apabila menggunakan peralatan makan atau minum yang sama dengan orang yang terkena difteri. Hal yang sama juga dapat terjadi jika memegang tisu atau barang lain tempat bakteri mengendap, dan kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.
  • Barang-barang di rumah yang terkontaminasi:
    Walaupun kasus ini jarang ditemukan, difteri dapat menyebar melalui barang rumah yang dipakai bersama seperti handuk atau mainan.

Orang yang sudah terinfeksi bakteri difteri dan tidak dirawat, dapat menginfeksi orang lain tanpa sistem kekebalan tubuh yang kuat sampai 6 minggu, bahkan jika gejala difteri tidak terlihat pada orang tersebut.

Faktor Berisiko

  • Anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi secara berkala
  • Orang yang tinggal di tempat ramai atau memiliki kondisi tidak bersih
  • Orang yang bepergian ke lokasi wabah difteri

Komplikasi

  • Masalah Pernapasan:
    Difteri menyebabkan bakteri menghasilkan toksin atau racun. Toksin tersebut merusak area yang terinfeksi, biasanya hidung dan tenggorokan. Infeksi memproduksi lendir kental berwarna abu-abu yang terdiri dari sel mati, bakteri dan zat lain. Lapisan ini dapat mengganggu pernapasan.
  • Kerusakan Jantung:
    Racun difteri dapat menyebar melalui pembuluh darah dan merusak bagian lain dalam tubuh, seperti otot jantung. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi seperti kelumpuhan pada otot jantung. Jantung yang rusak akibat miokarditis bisa bersifat sementara, muncul sebagai ketidaknormalan sampingan pada elektrokardiogram atau bisa parah, yang menuju gagal jantung dan kematian seketika.
  • Kerusakan Saraf:
    Racun difteri juga dapat menyebabkan kerusakan saraf. Yang menjadi target utama adalah otot pada tenggorokan. Otot tenggorokan yang lemah dapat menyebabkan kesulitan dalam menelan. Otot pada tangan dan kaki juga dapat menjadi lumpuh, karena otot melemah. Jika racun difteri merusak saraf yang membantu mengontrol otot dalam pernapasan, maka otot ini akan mengalami kelumpuhan. Akibatnya, penderita menjadi lebih sulit bernapas tanpa bantuan respirator atau alat lain yang membantu pernapasan.

Dengan perawatan, banyak penderita difteri bertahan dari komplikasi ini, meski penyembuhan berjalan lambat. Sementara itu, sekitar 3% kasus difteri berakibat fatal.

Diagnosis

Dokter dapat mencurigai gejala difteri pada anak mengalami sakit tenggorokan dengan jaringan abu-abu menutupi amandel dan tenggorokan. Difteri yang ditemukan membran tenggorokan dapat menunjukkan diagnosis. Dokter akan memberitahu pihak laboratorium jika mencurigai adanya difteri, karena perawatan khusus dibutuhkan. Dokter akan mengambil sampel dari jaringan yang terinfeksi, apabila penderita diyakini terkena difteri, dan perawatan akan dijalankan secepatnya.

Pencegahan

Sebelum ada antibiotik, difteri adalah penyakit umum yang terjadi pada anak. Saat ini, penyakit ini bukan hanya dapat diatasi tetapi juga bisa dicegah. Vaksin difteri biasanya diberikan bersamaan dengan vaksin tetanus dan pertusis (infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan) dalam satu injeksi. Vaksin campuran 3 dalam 1 ini dikenal dengan nama DTaP. Vaksinasi difteri, tetanus dan pertusis adalah imunisasi anak yang disarankan sejak kecil, dan dilakukan berkala. Terdapat 5 kali vaksinasi berupa suntikan pada tangan atau paha dan diberikan pada umur:

  • 2 bulan
  • 4 bulan
  • 6 bulan
  • 15-18 bulan
  • 4-6 tahun

Vaksin difteri sangat efektif untuk mencegah infeksi difteri. Efek samping yang mungkin terjadi pada anak-anak setelah mendapatkan vaksinasi antara lain demam ringan, merasa tidak nyaman atau rewel, mengantuk atau kelelahan. Konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat dalam mengurangi efek samping setelah vaksinasi. Walaupun jarang terjadi, vaksin DTaP dapat menyebabkan komplikasi serius pada sebagian anak seperti reaksi alergi dan kejang. Namun komplikasi ini dapat diatasi. Anak dengan epilepsi atau gangguan saraf lain tidak disarankan untuk mendapat vaksin DtaP.

mencegah gejala difteri dengan celte
agarillus drop difteria sembuh
difteri penyakit infeksi bakteri Agarillus

Pengobatan dengan herbal

  • CELTE
    Kandungan probiotik dan antioksidan dalam Celte sangat besar peranannya dalam meningkatkan daya tahan tubuh terhadap bakteri yang masuk dan menyerang tubuh.
  • Agarillus Drop
    Membantu meningkatkan daya tahan tubuh, menguatkan fungsi organ-organ tubuh dan melancarkan sirkulasi darah dalam tubuh.
  • Madu Royal Jelly
    Merupakan suplement yang selalu dibutuhkan oleh tubuh dalam menjaga tubuh dari serangan penyakit dan berbagai hal lain yang mengganggu kinerja tubuh.

 

Itulah sedikit penjelasan tentang difteri penyakit infeksi bakteri, semoga saja kita semua di jauhi dari penyakit yang berbahaya, Amin. Cek beberapa artikel yang telah kami publlish semoga bisa menambah ilmu kita masing – masing. Terima Kasih 🙂


Berbagi Kebaikan Itu Ibadah

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Open chat
Order SEKARANG