Faktor Penurun an Darah Tinggi ( Hipertensi )

Faktor Penurun an Darah Tinggi ( Hipertensi )

Berbagi Kebaikan Itu Ibadah

Pada kesempatan kali ini mimin akan membagikan penurun darah tinggi. Terdapat dua macam kelainan tekanan darah, antara lain dikenal sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi dan hipotensi atau tekanan darah rendah. Pada umumnya yang lebih banyak dihubungkan dengan kelainan tekanan darah adalah hipertensi, sedangkan hipotensi sering kali dihubungkan dengan kasus syok.

Pre Hipertensi

Tekanan darah normal yaitu 120/80 mmHg, pre hipertensi berada pada interval 120-139 / 80-89 mmHg. Hipertensi jika tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Pre hipertensi dan hipertensi berhubungan dengan berbagai komplikasi pada hampir seluruh organ. Pre hipertensi bukan kategori penyakit. Justru pre hipertensi adalah sebutan yang dipilih untuk mengidentifikasi individu yang berisiko tinggi terkena hipertensi.

Penderita pre hipertensi beresiko untuk terkena hipertensi lebih besar. Misalnya orang yang masuk kategori pre hipertensi dengan tekanan darah antara 130/80 mmHg – 139/89 mmHg mempunyai kemungkinan dua kali lipat untuk mendapat hipertensi dibandingkan dengan yang mempunyai tekanan darah lebih rendah. Orang yang termasuk dalam pre hipertensi, belum dianjurkan untuk meminum obat melainkan dianjurkan untuk melakukan penyesuaian pola hidup yang sehat atau mengurangi resiko terkena hipertensi dimasa yang akan datang.

Hipertensi

Hipertensi adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal.

Klasifikasi Hipertensi

  1. Berdasarkan Etiologi

    • Hipertensi Primer (Hipertensi Esensial) adalah hipertensi yang penyebabnya masih belum dapat diketahui. Hipertensi esensial kemungkinan disebabkan oleh beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Adanya hipertensi juga menyebabkan penebalan dinding arteri dan arteriol. Tekanan darah tinggi meningkatkan risiko terhadap serangan jantung, stroke, coronary heart disease (Penyakit jantung koroner atau atheroslerosis ).
    • Hipertensi Sekunder (Hipertensi non Esensial) Hipertensi sekunder adalah jika penyebab diketahui antara lain:
      • penyakit ginjal.
      • kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB, suntik KB)
  2. Berdasarkan Tinggi Rendahnya TDS dan TDD

    Berdasarkan tingginya diastolik. Hipertensi ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95-104 mmHg, Hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg. Hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih.

    Sedangkan berdasarkan tingginya tekanan sistolik.
    • Normal bila tekanan darah sistolik <120 mmHg dan diastolik <80 mmHg,
    • Prehipertensi bila tekanan darah sistolik 120 – 139 mmHg dan/atau diastolik 80 – 89 mmHg,
    • Hipertensi stadium 1 bila tekanan darah sistolik 140 – 159 mmHg dan diastolik 90 – 99 mmHg
    • Hipertensi stadium 2 bila tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan diastolik ≥100 mmHg.
      Bila tekanan darah penderita hipertensi berbeda dengan klasifikasi, sebagai contoh TDS 170 mmHg sedangkan TDD 90 mmHg maka derajat hipertensi ditentukan dari tekanan sistolik (TDS) karena merupakan tekanan yang terjadi ketika jantung berkontraksi memompakan darah.
  3. Berdasarkan Jenis Kelamin

    • Laki-laki, usia ≤ 45 tahun di katakan hipertensi apabila tekanan darah ≥ 130/90 mmHg,
    • Laki-laki, usia > 45 tahun di katakan hipertensi apabila tekanan darah ≥ 145/95 mmHg,
    • Perempuan, dikatakan hipertensi apabila tekanan darah ≥ 160/95 mmHg.
tekanan darah agarillus

Gejala Klinis

Tekanan darah tinggi seringkali tidak menimbulkan keluhan-keluhan langsung, tetapi lama-kelamaan dapat mengakibatkan berbagai penyakit. Tidak ada tanda-tanda yang memperingatkan. Hanya kurang dari sepersepuluh penderita tekanan darah tinggi yang menunjukkan adanya gejala. Hal ini lah yang membuat hipertensi juga sering disebut sebagai “silent killer”, karena seringkali penderita hipertensi bertahun-tahun tanpa merasakan sesuatu atau gejala. Namun secara umum gejala yang dikeluhkan oleh penderita hipertensi yaitu kegelisahan, jantung berdebar-debar, pening, nyeri dada, sakit kepala, depresi dan lesu.

Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala yaitu sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung, dan ginjal. Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan di otak.

Komplikasi

Dalam perjalanan penyakit hipertensi dapat timbul komplikasi somatik berupa gangguan jantung, gangguan peredaran serebral dan perifer, dan gangguan ginjal. Namun sering kali dianggap sebagai gejala awal penyakit pada saat pasien pertama kali ke dokter, padahal sebenarnya merupakan gejala komplikasi hipertensi.

Tekanan darah tinggi apabila tidak diobati dan ditanggulangi, maka dalam jangka panjang akan terjadi komplikasi serius pada organ-organ sebagai berikut, yaitu:

a. Jantung

Pada penderita hipertensi, otot jantung bekerja lebih keras dari biasanya karena arteri menyempit akibat mengapurnya dinding pembuluh darah. Ketika otot jantung bekerja lebih keras, otot jantung tidak mendapat pasokan darah dan oksigen yang cukup. Keadaan ini membuat rasa sakit di dada yang biasa disebut dengan angina atau miokardinal iskemia.
Jika arteri koronaria menyempit dan kemudian darah menggumpal, otot jantung yang langsung berhubungan dengan arteri ini menjadi mati. Keadaan ini disebut dengan serangan jantung.

b. Otak

Tekanan darah tinggi dapat membawa perubahan pada jaringan pembuluh nadi yang ada pada otak sehingga mengakibatkan serangan pada otak (attack). Serangan ini dapat menimbulkan kelumpuhan atau gangguan-gangguan organ tubuh (stroke). Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan dua jenis stroke, yaitu stroke iskemik dan stroke haemoragik. Stroke iskemik merupakan stroke yang paling sering terjadi, meliputi 70-80% dari semua kejadian stroke.
Stroke ini terjadi karena penyumbatan pembuluh darah akibat menumpuknya plak dalam arteri. Plak tersebut kemudian membentuk gumpalan dan lokasinya menetap dalam arteri-arteri antara jantung dan otak. Stroke haemoragik, kejadiannya meliputi 20-30 % dari semua kejadian stroke. Stroke ini terjadi jika pembuluh darah bocor atau pecah dalam otak.
Penyebab utamanya adalah tekanan darah tinggi yang persisten. Hal ini menyebabkan darah meresap ke ruang di antara sel-sel otak. Walaupun stroke hemoragik tidak sesering stroke iskemik, namun komplikasinya dapat menjadi lebih serius.

c. Ginjal

Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah menuju ginjal. Penyumbatan ini berakibat pada fungsi ginjal yaitu sebagai penyaring darah terganggu. Ginjal berfungsi menyaring kotoran-kotoran yang terbawa oleh aliran darah. Gangguan pada ginjal mengakibatkan kotoran-kotoran ini tidak tersaring sehingga darah yang penuh kotoran ini beredar ke seluruh tubuh. Lama kelamaan produk sisa akan menumpuk dalam darah, ginjal akan mengecil dan berhenti fungsi, keadaan ini disebut gagal ginjal.

d. Mata

Tekanan darah tinggi dapat mempersempit atau menyumbat arteri di mata, sehingga mengganggu aliran darah di dalam vena. Mata akan lebih banyak terkena resiko. Daya penglihatan terganggu karena kerusakan pada pembuluh selaput mata. Pada keadaan berat, saraf yang membawa sinyal-sinyal dari mata ke otak (saraf optik) akan mulai membengkak. Hal ini dapat menyebabkan kebutaan.

Faktor Risiko Hipertensi

A. Faktor Risiko Hipertensi Yang Tidak Dapat Diubah.

  1. Genetika.
    Riwayat hipertensi didalam keluarga. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka dugaan hipertensi esensial lebih besar.
  2. Umur.
    Usia adalah faktor risiko nomor satu. Jumlah individu yang mengalami hipertensi meningkat sejalan dengan meningkatnya usia. Semakin banyak usia individu maka penurun an darah tinggi agak susah.
  3. Jenis Kelamin.
    Perubahan normal dan pematangan fisik cenderung lebih nyata pada laki-laki dari pada wanita terlebih sebelum wanita mengalami menstruasi.
  4. Ras atau Suku Bangsa.
  5. Status sosio ekonomi.

B. Faktor Risiko Hipertensi Yang Dapat Diubah

  1. Obesitas.
    Anak dan dewasa yang kegemukan menderita lebih banyak hipertensi.
  2. Stress.
  3. Asupan Garam.
    Penelitian menunjukkan adanya kaitan antara asupan natrium yang berlebihan dengan tekanan darah tinggi pada beberapa individu. Asupan natrium yang meningkat menyebabkan tubuh meretensi cairan, yang meningkatkan volume darah.
    Di samping itu, diet tinggi garam dapat mengecilkan diameter dari arteri. Jantung harus memompa lebih keras untuk mendorong volume darah yang meningkat melalui ruang sempit.
  4. Aktivitas Fisik.
    Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Penurun darah tinggi paling cepat adalah olahraga karena banyak energi positif yang didapat. Kurang melakukan olahraga akan meningkatkan kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam juga bertambah akan memudahkan timbulnya hipertensi. Kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko menderita hipertensi karena meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Orang yang tidak aktif juga cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung harus memompa, makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri.
  5. Kebiasaan Merokok.
    Rokok menyebabkan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan juga menyebabkan pengapuran sehingga volume plasma darah berkurang karena pengaruh nikotin dalam peredaran darah. Salah satu cara penurun darah tinggi adalah berhenti merokok jika pasien masih merokok fase penyembuhan akan terganggu.
  6. Konsumsi Alkohol.
    Alkohol juga mempengaruhi tekanan darah. Orang-orang yang minum alkohol terlalu sering atau yang terlalu banyak memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dari pada individu yang tidak minum atau minum sedikit alkohol.

Pencegahan

  1. Pencegahan Primer, adalah upaya memodifikasi faktor resiko atau mencegah berkembangnya faktor risiko. Upaya pencegahan primer yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya hipertensi adalah dengan cara merubah faktor risiko yang ada.
    • Mengubah pola makan dengan mengurangi asupan garam dan lemak tinggi, serta meningkatkan makan sayur dan buah.
    • Mengubah gaya hidup dengan berolahraga secara teratur dan terkontrol seperti senam aerobik, berhenti merokok, dan mengurangi atau membatasi konsumsi alkohol.
    • Mengurangi kelebihan berat badan bagi yang kelebihan berat badan lebih dan kegemukan.
  2. Pencegahan Sekunder, pencegahan tahap sekunder adalah upaya pencegahan hipertensi yang sudah terjadi.
  3. PencegahanTersier, pencegahan tahap tersier yaitu upaya mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat atau kematian. Pencegahan tersier adalah upaya pencegahan penyakit ke arah berbagai akibat penyakit yang lebih buruk, dengan tujuan memperbaiki kualitas hidup pasien. Pencegahan tersier difokuskan pada rehabilitasi dan pemulihan setelah terjadi sakit untuk meminimalkan kesakitan, kecacatan, dan meningkatkan kualitas hidup.
    Upaya yang dilakukan pada pencegahan tersier ini yaitu:
    • Menurunkan tekanan darah sampai batas yang aman dan mengobati penyakit yang dapat memperberat hipertensi.
    • Mem-follow up penderita hipertensi yang mendapat terapi dan rehabilitasi.
    • Melakukan rehabilitasi yang tidak hanya difokuskan pada fisik, tetapi juga kebutuhan spritual dan psikologi untuk mengembalikan keutuhan.

Pengobatan

  1. AGARILLUS HERBAL DRINK, dengan kandungan antioksidan yang tinggi dapat menjadi herbal penurun darah tinggi secara alami dengan prisip kerja memperbaiki metabolisme tubuh yang terganggu yang menjadi penyebab terjadi nya gangguan pada organ tubuh dan memicu terjadi nya hipertensi.
  2. AGARILLUS DROP, bekerja melancarkan peredaran darah, menghilangkan sumbatan pada pembuluh darah, dan menguatkan dinding pembuluh darah. Mekanisme kerja herbal ini akan membantu menguatkan kinerja jantung dan sistem pembuluh darah.

Ditulis oleh:
dr. Ipak Ridmah Rikenawaty, M.Si
Konsultan Kesehatan CV. Mutiara Berlian


Berbagi Kebaikan Itu Ibadah

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Open chat
Order SEKARANG