LBA (Live Blood Analysis)

Apakah itu LBA?

LBA (Live Blood Analysis) 

  • Merupakan pemeriksaan kualitas darah.
  • Untuk mengevaluasi kesehatan secara dini.
  • Bukan merupakan alat diagnostik untuk beberapa penyakit yang spesifik.
  • Screening test untuk merefleksikan bagaimana kebiasaan pola makan, pola hidup yang akan mempengaruhi kesehatan.

Pentingnya LBA untuk deteksi penyakit

LBA merupakan screening awal/deteksi dini  terhadap:

  • Indikasi status imunitas yang rendah.
  • Liver dan spleen (limpa) stress.
  • Defisiensi vitamin dan mineral.
  • Ketidakseimbangan kalsium & gula darah.
  • Infeksi jamur, kedudukan parasit.
  • Masalah pencernaan.
  • Kecenderungan atherosclerotic (penyempitan/pengerasan arteri jantung karena plak).
  • Keracunan logam berat.
  • Kecenderungan kanker & penyakit degeneratif. 

Sel Darah Normal

Sel darah merah sehat memiliki permukaan luas untuk membawa oksigen dan nutrisi, sehingga oksigen & nutrisi bisa dengan cepat dan efektif diedarkan ke seluruh tubuh.

  • Berbentuk bulat
  • Ukurannya sama
  • Terpisah-pisah
  • Bergerak bebas
  • Jumlah sel darah merah lebih banyak dari pada sel darah putih
  • Tidak membentuk rantai

Sel Darah Putih Normal

  • Sel darah putih terdapat 1 atau 2 sel pada setiap 500 – 700 sel darah merah.
  • Sel darah putih berfungsi untuk melindungi dan sebagai pertahanan tubuh melawan infeksi dan akan membunuh sel yang bermutasi.
  • Sel darah putih mempunyai banyak bentuk dan aktif bergerak. Dalam keadaan normal, di sekitarnya tidak terdapat parasit, bakteri, bekuan darah ataupun massa lainnya.
  • Sel darah putih terbagi dalam 5 jenis sel darah putih yaitu Netrofil, Eosinofil, Basofil, Monasit, Limfosit.

Netrofil

Netrofil bersifat fagositasis yaitu memakan mikroorganisme asing seperti bakteri. Netrofil akan bertambah bila ada proses peradangan, kelelahan fisik berlebihan, penyuntikan epiniprin (pemacu kerja jantung). Netrofil juga sering terlihat pada kasus anemia pernicious, indikasi kekurangan atau tidak terserapnya vitamin B12 dan asam folat dan juga terjadi karena kelainan bawaan serta rendahnya fungsi kelenjar timus.

NETROPENIA adalah menurunnya jumlah netrofil yang signifikan, yang disebabkan penggunaan obat mielosupresif (menekan sumsum tulang belakang), kemotherapi, konsumsi obat analgesik dalam waktu lama, antibiotik dan antihistamin.

Hal ini ditandai dengan:

  • rasa tidak nyaman,
  • lemah,
  • pusing,
  • sakit otot,
  • luka pada selaput mukosa,
  • demam serta
  • denyut jantung berlebihan.

Eosinofil

Eosinofil berfungsi sebagai antigen dan antibody.
Eosinofil akan bertambah pada penderita asthma, reaksi obat-obatan, adanya parasit tertentu, keadaan alergi, termasuk alergi makanan, kerusakan tulang, menstruasi, berbagai macam iritasi atau inflamasi, arthritis dan penyakit degeneratif, kanker.

Keluhan :

  • kehilangan berat badan,
  • demam,
  • berkeringat di malam hari,
  • membengkaknya limpa,
  • serta terganggunya paru-paru dan jantung.

Basofil

Basofil mengandung berbagai enzim, platelet/trombosit, heparin / pengencer darah dan histamin.
Basofil sangat berhubungan dengan proses alergi atau sensifitas terhadap makanan atau lingkungan.
Basofil melepaskan mediator kimia untuk membantu darah dan sangat berguna dalam berbagai keadaan cedera supaya tidak kehilangan banyak darah.

Monosit

Monosit mempunyai peran sangat penting bagi tubuh, untuk sekresi enzim, kematangan sell, berinteraksi kompleks dengan immunogens (partikel dan unsur penting protein dari sistem imunitas).
Bentuknya lebih besar dari netrofil dan memiliki 1 inti.
Monosit memiliki fungsi fagosit yaitu menyingkirkan zat-zat kontaminan, sel-sel yang cedera dan mati dan mikroorganisme patogenik.

Limfosit

Limfosit terbagi menjadi 2 yaitu Limfosit T sebanyak 75% dan Limfosit B sebanyak 25% .
Dimana Limfosit T bertanggungjawab atas respon kekebalan selular melalui pembentukan sel yang reaktif antigen dan juga berfungsi menjinakkan radikal bebas dalam aliran darah maupun dalam kelenjar limfatik.
Sedangkan Limfosit B berfungsi untuk menghasilkan antibodi immunoglobulin.

Sel ini meningkat dalam darah pada pasien dengan kondisi penyakit serius (penyakit AIDS), stres limfatik, toksin, narkoba dan residu obat-obatan kimia yang mengandung toxin.